Showing posts with label Rumus. Show all posts
Showing posts with label Rumus. Show all posts

Rangkaian timer / pewaktu dengan ic NE 555

 

IC NE 555 ini adalah komponen elektronika yang berfungsi sebagai IC Clock, perangkat ini seringkali digunakan sebagai timer rangkaian ataupun Trigger sinyal clock suatu rangkaian elektronika.


Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Rangkaian timer dengan ic ne 555. Rangkaian timer ini pada dasarnya adalah Rangkaian Monostable Multivibrator dimana waktu delay LED menyala akan tetap stabil (sama terus sepanjang waktu) dan dapat ditentukan dengan rumus :


Td = 1,1 RC


Keterangan :

Td : Time Delay (Sekon)

R  : Resistor (Ohm)

C  : Capacitor (Farad)


Sementara itu ada juga rangkaian ic ne 555 bernama Astable Multivibrator dimana waktu delay LED menyala tidak dapat ditentukan dan terjadi secara acak. Misalkan kadang 5 detik, kadang 10 detik dan seterusnya.


Oleh karena itu untuk membuat Rangkaian timer dengan ic 555 ini kita menggunakan rangkaian Monostable Multivibrator.


Timer IC555

Gambar 1. Rangkaian timer IC NE 555



Cara Kerja Rangkaian Timer dengan IC Ne 555


Agar LED 1 Menyala dan timer berkerja maka Pin 2 (trigger) harus berlogika 0 atau bertegangan 0 Volt. Untuk itu digunakan metode Pull Up Resistor.


Pada saat SW 1 tidak ditekan maka aliran arus akan langsung ke pin 2 (trigger). Hal tersebut membuat timer tidak bekerja.


Kemudian saat SW 1 ditekan maka alairan arus akan langsung ke ground sehingga pada pin 2 (trigger) berlogika 0 atau bertegangan 0 Volt. Hal tersebut akan membuat timer bekerja.

SW1 adalah push button / Switch push on.

Akan tetapi rangkaian Monostable ini mempunyai syarat agar waktu timer (timer delay) selalu sama yaitu : nilai R1 harus antara 1k Ohm sampai 10 M Ohm.


Kemudian untuk menentukan waktu LED menyala (timer Delay) kita dapat menggunakan rumus :


Td = 1,1 RC


Keterangan :

Td : Time Delay (Sekon)

R  : Resistor (Ohm)

C  : Capacitor (Farad)




Misalkan kita ingin membuat Nyala LED 11 detik ketika push button ditekan maka kita dapat mencarinya dengan perhitungan :


Td = 1,1 x R1 x C1

R1 x C1 = Td/1,1

R1 x C1 = 11/1,1 = 10

Misal C1 = 100 uF = 0,0001 F

Maka R1 = 10/C1 = 10/0,0001 = 100000 ohm = 100 K



Misalkan kita ingin membuat Nyala LED 1 menit ketika push button ditekan maka kita dapat mencarinya dengan perhitungan :


Td = 1,1 x R1 x C1

R1 x C1 = Td/1,1

R1 x C1 = 60/1,1 = 55

Misal C1 = 100 uF = 0,0001 F

Maka R1 = 55/C1 = 55/0,0001 = 550000 ohm = 550 K = 0,55 M


timer ne555 2


Sekian dulu pembahasan kita tentang timer dengan IC Ne555, mohon maaf jika ada kesalahan, dan semoga bermanfaat dan terimakasih.
0

Cara menghitung nilai resistor

 

    Pada kesempatan sebelumya kita sudah membahas tentang pengertian, fungsi, dan rumus perhitungan resistor. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang cara menghitung nilai resistor. Dalam rangkaian elektronika ada banyak jenis resistor yang digunakan, dan tiap jenis resistor memiliki bentuk dan kode yang berbeda. Berikut ini adalah jenis resistor berdasarkan cara menghitung nilainya.



1. Resisistor dengan gelang warna.


Resistor ini biasanya digunakan pada rangkaian elektronika jaman dulu dan masih digunakan sampai saat ini untuk rangkaian elektronika berdaya besar seperti rangkaian power supplay dan rangkaian power amplifier. Resistor dengan gelang warna ini dibagi menjadi 3 yaitu resistor dengan 4 gelang warna, resistor dengan 5 gelang warna, dan resistor 6 Gelang warna. Sebelum menghitung gelang warna resistor sebiaknya kita menghafal dulu kode warna resistor berikut ini:

Kode warna resistor


Warna            Gelang 1 dan 2                Gelang 3            Gelang 4

Hitam                        -                                0                        -

Coklat                       1                                1                       1

Merah                        2                               2                        2

Orange                      3                               3                        -

Kuning                      4                                4                        -

Hijau                         5                                5                        -

Biru                           6                                6                        -

Ungu                         7                                7                        -

Abu2                         8                                8                        -

Putih                         9                                9                        -

Emas                         -                               -1                        5

Perak                         -                                -2                        10

Tak Berwarna            -                                -                        -


Untuk memudahkan dalam menghafal warna biasanya disingkat HiCoMeOKuHiBiUAPEPTak.




a. Cara menghitung nilai resistor 4 gelang warna


Warna ke 1 dan ke 2 adalah nilai
Warna ke 3 adalah faktor pengali
Warna ke 4 adalah toleransi

Misalkan resistor dengan warna Coklat, Hitam, Merah, Emas maka nilanya adalah 10 x 10^2 = 1000 ohm atau 1K dengan toleransi 5%.

Misalkan lagi resistor dengan warna Hijau, Biru, Orange, Perak maka nilainya 56 x 10^3 = 56000 ohm atau 56K dengan toleransi 10%.

Misalkan lagi resistor dengan warna Hijau, Biru, Perak, Perak maka nilainya 56 x 10^-2 = 0,56 ohm  dengan toleransi 10%.


b. Cara menghitung nilai resistor 5 gelang warna.


Warna ke 1, ke 2 dan ke 3 adalah nilai
Warna ke 4 adalah faktor pengali
Warna ke 5 adalah toleransi

Misalkan resistor dengan warna Coklat, Hitam, Hitam, Merah, Emas maka nilanya adalah 100 x 10^2 = 10000 ohm atau 10K dengan toleransi 5%.

Misalkan lagi resistor dengan warna Hijau, Biru,Hitam, Orange, Perak maka nilainya 560 x 10^3 = 560000 ohm atau 560K dengan toleransi 10%.

Misalkan lagi resistor dengan warna Hijau, Biru,Merah, Perak, Perak maka nilainya 562 x 10^-2 = 0,562 ohm  dengan toleransi 10%.


c. Cara menghitung nilai resistor 6 gelang warna.


Warna ke 1, ke 2 dan ke 3 adalah nilai
Warna ke 4 adalah faktor pengali
Warna ke 5 adalah toleransi
Warna ke 6 adalah koefisien suhu

Misalkan resistor dengan warna Coklat, Hitam, Hitam, Merah, Emas, Coklat maka nilanya adalah 100 x 10^2 = 10000 ohm atau 10K dengan toleransi 5% dan koefisien suhu 100ppm.




2. Resistor SMD dengan kode Angka


Resistor SMD

Resistor ini banyak dinakan dirangkaian elektronika jaman sekarang, bahkan hampir semua rangkaian elektronika sekarang menggunakan resistor ini karena resistor ini memiliki benntuk yang sangat kecil. Resistor SMD ini dibagi menjadi 2 lagi yaitu resistor dengan 3 kode angka dan resistor dengan 4 kode angka.



a. Cara menghitung resistor 3 kode angka.


Angka pertama dan angka kedua adalah nilai.

Angka ketiga adalah faktor pengali pangkat 10

Misalkan ada resistor dengan kode 103, maka nilainya adalah 10 x 10^3 = 10 x 1000 = 10.000 atau 10K.

Misalnya lagi kode 100, maka nilainya 10 x 10^0 = 10 ohm

Resistor 3 Kode ini juga memiliki kode huruf di tengah.

R untuk ohm

K untuk Kilo ohm

M untuk Mega ohm

Misalnya resistor dengan kode 4R7 maka nilainya adalah 4,7 ohm

Misalnya lagi 5K6 maka nilainya adalah 5,6 K ohm



b. Cara menghitung resistor 4 kode angka.


Angka pertama,angka kedua, dan angka ketiga adalah nilai.

Angka keempat adalah faktor pengali pangkat 10

Misalkan ada resistor dengan kode 1003, maka nilainya adalah 100 x 10^3 = 100 x 1000 = 100.000 atau 100K.

Misalnya lagi kode 1000, maka nilainya 100 x 10^0 = 100 ohm

Resistor 4 Kode ini juga memiliki kode huruf di tengah.

R untuk ohm

K untuk Kilo ohm

M untuk Mega ohm

Misalnya resistor dengan kode 0R33 maka nilainya adalah 0,33 ohm

Misalnya lagi 0R22 maka nilainya adalah 0,22 ohm



3. Resistor yang nilainya tertulis langsung pada body nya.


Bisanya pada resistor besar dan R Kapur nilai dari resistor tersebut langsung tertulis pada body resistor tersebut.



0

Rangkaian Comparator op-amp atau pembanding tegangan

comparator1comparator2

 Gambar 1. Rangkaian Comparator


    Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas tentang rangkaian inverting amplifier dan rangkaian inverting amplifier, Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang rangkaian comparator atau pembanding tegangan menggunakan Ic op-amp 741.


Pengertian Comparator

    Rangkaian comparator adalah salah satu rangkaian elektronika yang output nya ditentukan oleh perbandingan antara 2 buah tegangan inputnya atau perbandingan antara input kaki positif dan input kaki negatif atau perbandingan antara tegangan referensi dan tegangan inputnya.




Cara Kerja Comparator

    Comparator di bagi menjadi 2 yaitu comparator Positif atau noninverting comparator dan comparator negatif atau inverting comparator.

comparator noninverting
Gambar 2. Rangkaian Comparator Positif atau Noniverting


    Pada comparator positif, comparator akan membandingkan besarnya tegangan pada kaki noninverting atau + dan kaki inverting atau -, jika tegangan di kaki noninverting lebih besar dari tegangan dikai inverting maka tegangan outputnya 90% dari tegangan +VCC,dan jika tegangan di kaki noninverting lebih kecil dari tegangan dikai inverting maka tegangan outputnya 90% dari tegangan -VCC.

comparator inverting
Gambar 3. Rangkaian Comparator Negatif atau Iverting


    Pada comparator negatif, comparator akan membandingkan besarnya tegangan pada kaki noninverting atau + dan kaki inverting atau -, jika tegangan di kaki noninverting lebih besar dari tegangan dikai inverting maka tegangan outputnya 90% dari tegangan -VCC,dan jika tegangan di kaki noninverting lebih kecil dari tegangan dikai inverting maka tegangan outputnya 90% dari tegangan +VCC.


Jenis jenis Vref Pada Rangkaian Comparator

    Ada beberapa jenis Vref yang sering digunakan dalam rangkaian comparator diantaranya menggunakan 2 buah resistor yang diseri, menggunakan potensiometer, menggunakan trimpot, menggunakan Bateray, menggunakan dioda zenner, dan lain sebagainya. dibawah ini adalah gambar  contoh penggunaaan Vref dalam rangkaian comparator.


comparator vref

Gambar 4. Rangkaian Tegangan Referensi Comparator


Contoh Soal 1


comparator contoh1
Gambar 5. Contoh soal rangkaian comparator 1


Dari gambar 5 diatas diketahui :
VCC = 12V >> 90%VCC = 10,8V
R1 = 10K
R2 = 30K
Vin = 5V

Berapakah tegangan output atau Vout dari rangkaian comparator diatas?

Jawab :
(Vref = \frac{R_{2}}{R_{1}+R_{2}}\times VCC)
(Vref = \frac{30}{10+30}\times 12V)
(Vref = \frac{3}{4}\times 12V)
(Vref = 9V)

Karena rangkaian diatas adalah adalah rangkaian comparator inverting, maka jika tegangan dikaki noninverting lebih besar dari tegangan dikaki inverting maka tegangan output nya adalah 90%-VCC.
Karena -VCC = 0, maka 90%-VCC = 0. Jadi tegangan output dari rangkaian comparator diatas adalah 0V.


Contoh Soal 2


comparator contoh1
Gambar 6. Contoh soal rangkaian comparator 1

Dari gambar 6 diatas diketahui :
+VCC = 12V >> 90%VCC = 10,8V
-VCC = 0 >> 90%-VCC = 0V
VRa = 5K
VRb = 45K
Vin = 9V

Berapakah tegangan output atau Vout dari rangkaian comparator diatas?

Jawab :
(Vref = \frac{VR_{b}}{VR_{a}+VR_{b}}\times VCC)
(Vref = \frac{45}{5+45}\times 12V)
(Vref = \frac{9}{10}\times 12V)
(Vref = 10,8V)

Karena, 
Vref> Vin , maka Vout = 90%-VCC = 0V
Jadi tegangan output dari rangkaian comparator diatas adalah 0V.


Contoh Soal 3.


Diketahui rangkaian seperti gambar 6 , Jika VR diputar sehingga menjadi VRa =20K dan VRb = 30K, maka berapah nilai Vout nya ?

Jawab:
Vin = 9V
(Vref = \frac{VR_{b}}{VR_{a}+VR_{b}}\times VCC)
(Vref = \frac{30}{20+30}\times 12V)
(Vref = \frac{3}{5}\times 12V)
(Vref = 7,2V)

Karena, 
Vref < Vin , maka Vout = 90%+VCC = 10,8V
Jadi tegangan output dari rangkaian comparator pada contoh soal 3 adalah 10,8V.
0

Noninverting Amplifier menggunakan Ic Op-amp 741

noninverting amplifier

 

    Salah satu fungsi dari IC atau Integrated Circuit adalah sebagai penguat tegangan. Dalam fungsinya sebagai penguat tegangan, penguatanya dibagi menjadi dua yaitu penguat terbalik atau inverting amplifier dan penguat tidak terbalik atau noninverting ampliaer. Pada artikel sebelumnya kita sudah membahas tengtang inverting amplifier dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang penguat tak terbalik atau noninverting amplifier menggunakan Ic op-amp 741.


Pengertian Noninverting Amplifier

    Rangkaian Noninverting amplier dapat digunakan untuk menguatkan tegangan pada arus DC atau Direct Current atau Arus Searah maupun arus AC atau Alternating Current atau Arus Bolak balik. Untuk penguatan pada arus DC polaritas output nya tidak berbalik . Untuk penguatan pada arus AC outputnya akan  fasanya juga tidak berbalik 180 derajat. Besarnya penguatan tegangan pada rangkaian noniverting amplifier ini ditentukan dari perbandingan antara hambatan penguat atau Rf dan hambatan input atau Rin.




Rumus Noninverting Amplier

Rumus penguatan atau gain pada rangkaian noninverting amplifier adalah
Gain =  Rf/Rin
Untuk rumus tegangan Outputnya adalah
Vout = Gain x Vin
        = Rf/Rin x Vin    
>> Vout maksimal = 90% VCC, jadi Vout tidak bisa lebih tinggi dari VCC.
dimana :
Gain = Faktor Penguatan pada rangkaian amplifier
Rf = Resistor gain
Rin = Resistor Input
Vin = Tegangan input
Vout = Tegangan output


Contoh Kasus 1


noninverting amplifier contoh 1


Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 3 Volt
Rin = 10 K
Rf = 20 K

Ditanyakan :
Berapakah tegangan output atau Vout nya?

Jawab :
Vout = Rf/Rin x Vin
         =20/10 x 3 V
       = 2 x 3 V
       =  6V
Jadi Voutnya adalah 6 Volt.

Contoh Kasus 2




noninverting amplifier contoh 2



Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 1,2 Volt
Rin = 10 K
Rf = 100 K

Ditanyakan :
Berapakah tegangan output atau Vout nya?

Jawab :
Vout = Rf/Rin x Vin
         =100/1020/10 x 1,2 V
       = 10 x 1,2 V
       =  12 V
Karena Vout melebihi Vout max 90% x 12 V = 10,8V
Jadi Voutnya adalah 10,8 Volt.


Contoh Kasus 3



noninverting amplifier contoh 3



Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 2 Volt
Rin = 10 K
Vout  = 8 Volt

Ditanyakan :
Berapakah hambatan Rf nya?

Jawab :
Vout = Rf/Rin x Vin
Rf/Rin    = Vout/Vin
Rf            = Rin x Vout /Vin
                = 10 x 8 /2
                = 10 x 4
                = 40 K

Jadi hambatan pada Rf adalah 40 K.




0

Inverting Amplifier menggunakan IC 741



inverting amplifier

    Salah satu fungsi dari IC atau Integrated Circuit adalah sebagai penguat tegangan. Dalam fungsinya sebagai penguat tegangan, penguatanya dibagi menjadi dua yaitu penguat terbalik atau inverting amplifier dan penguat tidak terbalik atau noninverting ampliaer. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang penguat terbalik atau inverting amplifier. Ada banyak IC op-amp yang bisa digunakan untuk membuat rangkaian inverting amplifier, disini kita akan menggunakan IC LM741.


Pengertian Inverting Amplifier

    Rangkaian Inverting amplier dapat digunakan untuk menguatkan tegangan pada arus DC atau Direct Current atau Arus Searah maupun arus AC atau Alternating Current atau Arus Bolak balik. Untuk penguatan pada arus DC output nya akan berbalik polaritasnya, jika input + maka output akan - dan sebaliknya. Untuk penguatan pada arus AC outputnya akan  fasanya berbalik 180 derajat.




Rumus Inverting Amplier

Rumus penguatan atau gain pada rangkaian inverting amplifier adalah

Gain = - Rf/Rin

Untuk rumus tegangan Outputnya adalah

Vout = Gain x Vin

        = -Rf/Rin x Vin    

>> Vout maksimal = 90% VCC, jadi Vout tidak bisa lebih tinggi dari VCC.

>> Vout minimal = 90% -VCC, jadi Vout tidak bisa lebih rendah dari -VCC.


dimana :

Gain = Penguatan pada rangkaian amplifier

Rf = Resistor gain

Rin = Resistor Input

Vin = Tegangan input

Vout = Tegangan output


Contoh Kasus 1

inverting amplifier1


Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 2 Volt
Rin = 10 K
Rf = 20 K

Ditanyakan :
Berapakah tegangan output atau Vout nya?

Jawab :
Vout = -Rf/Rin x Vin
       = - ( 20/10) x 2 V
       = - 2 x 2 V
       =  -4V
Jadi Voutnya adalah -4Volt.

Contoh Kasus 2


inverting amplifier2


Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 1,5 Volt
Rin = 10 K
Vout  = -9V

Ditanyakan :
Berapakah hambatan Rf nya?

Jawab :
Vout = -Rf/Rin x Vin
-Rf/Rin    = Vout/Vin
-Rf            = Rin x Vout /Vin
                = 10 x -9 /1,5
                = 10 x 6
                = 60 K

Jadi hambatan pada Rf adalah 60 K.




Contoh Kasus 3



inverting amplifier3


Dari gambar di atas,
Diketahui :
Vin = 5 Volt
Rin = 10 K
Rf = 50 K

Ditanyakan :
Berapakah tegangan output atau Vout nya?

Jawab :
Vout = -Rf/Rin x Vin
       = - ( 50/10) x 5 V
       = - 5 x 5 V
       =  -25V
Karena Vout tidak bisa lebih kecil dari 90%-VCC  = -10,8Volt
Jadi Voutnya adalah -10,8Volt.



0

Pengertian, Fungsi, Jenis dan Cara Kerja Transistor



transistor

Hai sobat elektronika dimanapun kalian berada, Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang dioda dan kapasitor, dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang salah satu komponen aktif yaitu Transistor. Transistor merupakan salah satu komponen semikonduktor yang paling banyak ditemukan dalam rangkaian-rangkaian elektronika.




Pengertian Transistor


    Transistor adalah salah satu komponent aktif dalam rangkaian elektronika yang secara umum berfungsi sebagai penguat arus, pengendali, osilator, modulator dan lain sebagainya..Transistor memiliki 3 kaki yaitu kaki basis, kaki Colektor dan kaki Emitor. Transistor pertama kali ditemukan oleh tiga orang fisikawan yang berasal Amerika Serikat pada akhir tahun 1947 adalah Transistor jenis Bipolar. Mereka adalah  John Bardeen, Walter Brattain, dan William Shockley. Dengan penemuan tersebut, perangkat-perangkat elektronik yang pada saat itu berukuran besar dapat dirancang dalam kemasan yang lebih kecil dan portabel.



Fungsi Transistor


    Selain berfungsi sebagai penguat arus transistor juga dapat digunakan sebagai saklar atau pemutus  arus listrik pada kondisi cut off dan penyambung arus listrik pada kondidi saturasi.



Jenis Jenis Transistor




    Transistor ini dibagi menjadi dua golongan yaitu Transistor Bipolar dan Transistor Efek Medan /Field Effect Transistor. Perbedaan yang paling utama diantara dua golongan tersebut adalah terletak pada bias Input / Output yang digunakannya. Transistor Bipolar memerlukan arus untuk mengendalikan terminal lainnya sedangkan Field Effect Transistor  hanya menggunakan tegangan saja dan tidak memerlukan arus. Pada proses operasinya, Transistor Bipolar memerlukan muatan pembawa  hole dan electron sedangkan FET hanya memerlukan hole atau electron saja.



1. Transistor Bipolar


    Transistor Bipolar ialah Transistor yang memiliki 2 kutub yang pada proses operasinya memerlukan perpindahan muatan electron di kutup negatif kemudian mengisi kekurangan electon atau hole di kutub positif. Bipolar berasal dari kata “bi” yang artinya adalah “dua” dan kata “polar” yang artinya adalah “kutub”. Transistor Bipolar juga sering disebut juga dengan singkatan BJT yang kepanjangannya adalah Bipolar Junction Transistor


Transistor Bipolar ini dibagi 2 yaitu transistor NPN dan transistor PNP:

a. Transistor NPN / Negatif-Positif-Negatif


    Transistor NPN ini memiliki 1 kutub positif dan 2 kutub negatif, atau 1 kaki anoda dan 2 kaki katoda.


b. Transistor PNP / Positif-Negatif-Positif


    Transistor ini memiliki 2 kutub positif dan 1 kutub negatif, atau 2 kaki anoda dan 1 kaki katoda.



2. Transistor FET / Field Effect Transistor / Transistor Unipolar


    Field Effect Transistor yang disingkat menjadi FET ini adalah jenis Transistor yang menggunakan medan listrik untuk mengendalikan konduktifitasnya. Transistor FET ini memiliki 3 kaki yaitu kaki Gate, kaki Drain, dan kaki Source.Transistor ini memanfaatkan Tegangan listrik yang diberikan pada terminal Gate (G) untuk mengendalikan aliran arus dan tegangan dari terminal Drain (D) ke terminal Source (S). Transistor FET ini  disebut juga sebagai Transistor Unipolar karena pengoperasiannya hanya tergantung pada salah satu muatan pembawa saja, apakah muatan pembawa tersebut merupakan Electron maupun Hole.

Transistor FET ini dibagi menjadi 3 Jenis yaitu Mosfef, JFet, dan UJT



a. Transistor Mosfet / Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor


    MOSFET adalah Transistor FET yang menggunakan IsolatorSilicon Dioksida atau SiO2 diantara kaki Gate dan Kanalnya atau kaki Drain dan Kaki Sorce. MOSFET ini terdiri dua jenis konfigurasi yaitu MOSFET Depletion dan MOSFET Enhancement yang masing-masing jenis MOSFET ini juga terbagi menjadi MOSFET Kanal-P /P-channel dan MOSFET Kanal-N /N-channel. MOSFET ini memiliki tiga kaki terminal yaitu Gate/ G, Drain/ D dan Source/ S. 

Contoh Mosfet N Channel : Mosfet IRFZ44N 8A 500V, IRF260 50A 220V, KF10N68 10A 600V, FQP55N10  10A 550V

Contoh Mosfet P Channel : IRF4905, IRF9530, IRF9540, AOD403,AON7403



b. Transistor JFET

    JFET adalah Transistor FET yang memanfaatkan persimpangan /junction  P-N bias terbalik sebagai isolator antara kaki Gate dan Kanalnya atau kaki Drain dan Kaki Sorce. JFET terdiri dari dua jenis yaitu JFET Kanal-P /P-channel dan JFET Kanal-N /N-channel. JFET terdiri dari tiga kaki terminal yang masing-masing terminal tersebut diberi nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S). Contoh transistor JFET : K30A, 2SK152, J175, 2SJ74

c. Transistor UJT


    Transistor UJT adalah jenis Transistor yang digolongkan sebagai Field Effect Transistor (FET) karena proses pengoperasiannya juga menggunakan medan listrik atau tegangan sebagai pengendalinya.


Cara Kerja Transistor 


1. Cara Kerja Transistor Bipolar



Cara Kerja Transistor Bipolar NPN : 


    Pada saat tegangan pada kaki basis lebih tinggi dari tegangan pada kaki emitor maka Transistor akan mengalirkan arus dari Colektor ke Emitor. Ini disebut Kondisi saturasi.
dan sebaliknya Pada saat tegangan pada kaki basis lebih rendah dari tegangan pada kaki emitor maka Transistor tidak akan mengalirkan arus dari Colektor ke Emitor. Ini disebut Kondisi cut  off.



Cara Kerja Transistor Bipolar PNP:

    Pada saat tegangan pada kaki basis lebih rendah dari tegangan pada kaki emitor maka Transistor akan mengalirkan arus dari Emitor ke Colektor. Ini disebut Kondisi saturasi.

dan sebaliknya Pada saat tegangan pada kaki basis lebih tinggi dari tegangan pada kaki emitor maka Transistor tidak akan mengalirkan arus dari Emitor ke Colektor. Ini disebut Kondisi cut  off.


2. Cara Kerja Transistor Mosfet 


Cara Kerja Transistor Mosfet N-Channel : 

    Pada saat tegangan pada kaki Gate lebih tinggi dari tegangan pada kaki Source maka Transistor akan mengalirkan arus dari  Source ke Drain . Ini disebut Kondisi DEPLETION MODE. Semakin besar beda tegangan antara gate dan source semakin besar juga arus yang mengalir dari Source ke Drain.
dan sebaliknya Pada saat tegangan pada kaki Gate lebih rendah dari tegangan pada kaki Source maka Transistor tidak akan mengalirkan arus dari Source ke Drain. Ini disebut Kondisi ENHANCEMENT MODE.


Cara Kerja Transistor Mosfet P-Channel : 

    Pada saat tegangan pada kaki Gate lebih rendah dari tegangan pada kaki Source maka Transistor akan mengalirkan arus dari   Drain ke Source . Ini disebut Kondisi DEPLETION MODE. Semakin besar beda tegangan antara gate dan source semakin besar juga arus yang mengalir dari Drain ke Source.
dan sebaliknya Pada saat tegangan pada kaki Gate lebih tinggi dari tegangan pada kaki Source maka Transistor tidak akan mengalirkan arus dari Drain ke Source. Ini disebut Kondisi ENHANCEMENT MODE.


Kesimpulan


    Pada saat transistor dalam keadaan saturasi dan depletion mode, kondisi ini mirip seperti kondisi saklar tertutup. Dan pada saat transistor dalam kondisi cut off dan enhancement mode, kondisi ini mirip dengan kondisi saklar terbuka atau tidak ada aliran arus listrik.



Penutup


    Oke...sekian  dulu pembahasan kita tentang Pengertian, Jenis jenis, dan Cara Kerja Transistor. Mohon maaf jika ada kesalahan. Silakan komen dikolom komentar jika ada pertanyaan. Semoga bermanfaat buat kita semua dan Terimakasih.

0

Kapasitor atau Capasitor, Pengertian Jenis dan Rumus nya

 

kapasitor
Gambar 1. Kapasitor

    Hai sobat elektronika dimanapun kalian berada, Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang salah satu komponen pasif yaitu Kapasitor / Capasitor/ Condensator.
1

Resistor, Fungsi dan Rumus Perhitungannya



Resistor Fungsi dan Rumus

 


         Hai sobat elektronika dimanapun kalian berada, Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang salah satu komponen pasif yaitu Resistor/ Hambatan.
0

Featured Post

Rangkaian cas / charger aki ( Batteray ) otomatis

 Pendahuluan Rangkaian cas aki otomatis adalah solusi teknologi yang cerdas untuk menjaga kesehatan aki kendaraan Anda. Ini dirancang untuk ...